Senin, 16 Maret 2015

Pemisahan dan Pemurnian



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Pemisahan dan pemurnian merupakan suatu cara yang dilakukan untuk memisahkan atau memurnikan suatu senyawa maupun sekelompok senyawa yang mempunyai susunan kimia yang berkaitan dari suatu bahan. Pada prinsipnya, pemisahan dilakukan untuk memisahkan 2 zat atau lebih yang bercampur sedangkan pemurnian dilakukan untuk mendapatkan suatu zat yang murni dari suatu zat yang tercampur.

Biasanya zat murni telah tercampur dengan zat-zat lain yang dapat membentuk campuran yang bersifat homogen dan heterogen yang bergantung pada jenis komponen yang tergantung didalamnya.

Zat murni ada dua yaitu unsur dan senyawa, sedangkan campuran merupakan gabungan dua zat murni dengan komposisi sembarangan. Zat murni yang sudah tercampur mengandung zat-zat lain dalam bentuk gas, cair, atau padat.

Zat atau materi dapat dipisah dari campurannya karena campuran tersebut memiliki perbedaan sifat. Itulah yang mendasari pemisahan camuran atau dasar pemisahan. Dalam kenyataan pemisahan dan pemurnian tidak dapat dipisah satu sama lain. Kita akan melihat bahwa ketika metode pemisahan dan pemurnian baru dikembangkan. Ilmu kimia akan mendapatkan kemajuan besar. Pentingnya pemisahan dan pemurnian inilah yang melatar belakangi percoabaan ini.

Campuran dapat dipisahkan dengan menggunakan berbagai metode. Metode-metode tersebut yaitu, pengayakan, penyaringan, sentrifugasi, evaporasi, pemisahan campuran dengan menggunakan magnet, sublimasi, destilasi, corong pisah dan kromatografi. Metode dekntil digunakan untuk memisahkan campuran yang penyusunnya berupa cairan dan padatan.

Oleh karena itu percobaan ini, perlu dilakukan sehingga kita dapat mengetahui berbagai cara pemishan dan pelepasan larutan untuk mendapatkan zat murni. Selain itu tidak hanya bisa dilakukan pada zat cair saja, maupun juga dapat dilkukan pada campuran yang dibentuk oleh dua jenis zat padat. Dalam proses pemisahan dan pemurnian ini juga kita akan mempelajari berbagai jenis zat padat campuran atau zat cair campuran dan juga dapat mengetahui jenis-jenis pemisahan dan pemurnian. Agar kita dapat melakukan metode pemisahan dan pemurnian secara tepat.

1.2              Tujuan
-          Mengetahui catra-cara pemurnian suatu campuran
-          Mengetahui zat murni dari zat yang telah tercemar atau tercampur
-          Mengetahui penggolongan pada campuran















                                                               BAB 2
                                      TINJAUAN PUSTAKA

Campuran yang digunakan untuk pemisahan dan pemurnian dapat digolongkan menjadi 3 yaitu :
Larutan adalah campuran homogen dari dua zat atau lebih yang terdispersi      sebagai molekul ataupun ion yang komposisinya dapat bervariasi. Larutan itu tampak homogeny (kontinue, tanpa bidang batas) dan mempunyai komposisi yang sama pada setiap bagiannya. Komponen - komponen yang terdapat pada larutan tidak dapat dipisahkan melalui penyaringan, sebagai contoh air dan gula. Larutan terdiri atas pelarut dan zat terlarut. Pada umumnya, komponen yang jumlahnya terbanyaklah yang dianggap sebagai pelarut. Misalnya sirup yaitu, campuran yang mengandung lebih banyak gula dari pada air. Disamping itu, zat padat atau cairan larut dalam cairan, maka dalam campuran terjadi gaya tarik - menarik antar molekul (intermolekul) zat terlarut dan pelarut. Selain itu terdapat gaya tarik didalam molekul atau ion masih tetap bersatu. Larutan dapat berubah padatan, diameter partikel larutan lebih kecil 1 nm (Yazid, 2005).

Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara campuran kasar dan larutan. Secara makropis koloid tampak homogen, tetapi secara mikropis koloid bersifat heterogen. Oleh karena itu, koloid digolongkan ke dalam campuran heterogen. Campuran koloid pada umumnya bersifat stabil dan tidak disaring. Ukuran partikel koloid terletak 1 -100 nm, berada diantara larutan dan larutan kasar atau suspensi, sehingga masih cukup kecil untuk menembus kertas saring biasa, cukup besar untuk menembus membran atau filter ultra (Yazid, 2005).

Suspensi adalah campuran kasar dan bersifat heterogen. Antar komponennya masih terdapat bidang batas dan sering kali dapat dibedakan tanpa menggunakan mikroskop. Setelah suspensi biasanya dimasukkan untuk campuran heterogen dari suatu zat padat dalam zat cair. Suspensi tampak keruh dan tidak stabil zat suspensi lambat laun akan terpisah karena gravitasi (mengalami sedimentasi). Suspensi dapat di pisahkan melalui penyaringan. Diameter partikel suspensi adalah lebih dari 100 nm. Contoh campuran suspensi adalah campuran terigu atau kapur dengan air (Keenan, 1999).

Campuran terbentuk dari dua zat atau lebih zat berlainan yang masih mempunyai sifat zat aslinya. Dalam kehidupan sehari - hari banyak kita jumpai campuran. Misalnya air sungai, tanah, udara, makanan, minuman, dll. Campuran dibagi dua yaitu :
Campuran homogen adalah penggabungan 2 zat tunggal atau lebih yang semua partikelnya menyebar merata sehingga membentuk 1 fasa. Yang disebut 1 fasa adalah zat yang sifat komposisinya sama antara satu bagian dengan bagian yang lain didekatnya. Contohnya gula dan air, rasa manis air gula disemua bagian bejana sama baik diatas maupun dibawah dan dipinggirnya karena begitu kecil dan meratanya partikel gula sehingga tidak dapat dilihat walaupun dengan mikroskop (Syukri, 1999).

Campuran heterogen adalah penggabungan yang tidak merata antara 2 zat tunggal atau lebih sehingga perbandingan komponen yang satu dengan lainnya tidak sama diberbagai bagian bejana. Contohnya campuran air dengan minyak tanah. Pada mulanya kedua zat tidak bercampur, tetapi setelah dikocok dengan kuat minyak menyebar dalam air berupa  gelembung - gelembung kecil. Pada gelembung hanya terdapat minyak, sedangkan yang lain adalah air. Jadi minyak tidak menyebar merata seperti gula dan air. Dengan kata lain, dalam campuran heterogen masih ada bidang batas antara kedua komponen atau mengandung lebih dari 1 fasa (Syukri, 1999).

Untuk memisahkan campuran homogen maupun heterogen dapat dilakukan melalui proses pemisahan dan pemurnian. Pemisahan dilakukan untuk memisahkan dua zat atau lebih yang saling bercampur, sedangkan pemurnian adalah suatu cara untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar atau tercampur oleh zat lain (Syukri, 1999)

Pemisahan dan pemurnian adalah proses pemisahan dua zat atau lebih yang saling bercampur serta untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar atau tercampur. Campuran adalah setia contoh materi yang tidak murni, yaitu bukan sebuah unsur atau sebuah senyawa. Susunan suatu campuran tidak sama dengan sebuah zat, dapat bervariasi, campuran dapat berupa homogen dan heterogen (Petrucci, 1996).

Dua pengertian yang penting dalam larutan adalah (zat yang dilarutkan) dan (zat pelarut). Pengertian ini dapat dinyatakan bila senyawa dalam jumlah yang lebih besar maka disebut zat pelarut. Meskipun demikian pernyataan ini dapat dibalik bila lebih tepat (Syukri, 1999).

Metode pemisahan dan pemurnian.
Dekantasi adalah proses pemisahan zat padat yang tidak terlarut didalam pelarutnya dengan cara dituangkan, sehingga akibatnya cairan tersebut akan terpisah dari zat padat yang tercampur (Sudjadi, 1998).

Filtrasi adalah suatu cara pemisahan yang biasa dilakukan untuk memisahkan suatu pelarut terhadap pengotornya yang berupa padatan atau memisahkan suatu padatan kristal terhadap pelarutnya (Sudjadi, 1998).

Rekristalisasi adalah pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya dengan cara mengkristalkan kembali zat terlarut setelah dilarutkan dalam pelarut yang cocok (Syukri, 1991).

Sublimasi adalah perubahan wujud zat dari padat ke gas atau sebaliknya, bila partikel penyusun suatu zat padat diberikan kenaikan suhu melalui pemanasan, maka partikel tersebut akan berubah wujud menjadi gas sebaliknya bila suhu diturunkan, maka gas akan berubah menjadi padat (Sudjadi, 1998)
Ekstraksi adalah cara pemisahan dua atau lebih zat dalam suatu campuran (Suyitno, 1989).

Struktur kimia Naftalena dan minyak goreng
Naftalena adalah hidrokarbon kristalin aromatika berbentuk padatan berwarna putih(Petrucci, 1987).
- Gambar struktur Naftalena

Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya digunakan untuk memasak (Petrucci, 1987).
- Gambar struktur minyak goreng


Senyawa polar dan non polar
Senyawa polar adalah senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar elektron pada unsur - unsurnya ini terjadi karena unsur yang berkaitan tersebut mempunyai nilai keelektronegatifitasnya yang berbeda (Svehla, 1979).

Senyawa non polar adalah senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar elektron pada unsur - unsur yang membentuknya ini terjadi karena unsur yang berkaitan mempunyai nilai elektronegatifitas yang sama atau hampir sama (Svehla, 1979).
























BAB 3
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1       Alat dan bahan
3.1.1    Alat
            -    Sendok/spatula
            -    Gelas kimia 50 ml
            -    Corong kaca
            -    Corong pisah
            -    Cawan penguap
            -    Botol semprot
            -    Jarum
            -    Batang pengaduk
            -    Mortar dan alu
            -    Labu erlenmeyer 100 ml
            -    Statif dan klem
            -    Hotplate
            -    Gunting
            -    Alat tulis
            -    Penjepit tabung
            -    Kanebo
            -    Sikat tabung reaksi

3.1.2    Bahan
            -    Pasir
            -    Kapur tulis
            -    Kapur barus (naftalena)
            -    Garam dapur
            -    Minyak goreng
            -    Aquades
            -    CuSO4
            -    Kertas saring
            -    Tisu gulung
            -    Sunlight

3.2       Prosedur Percobaan
3.2.1    Dekantasi
            -    Dimasukkan 50 ml aquades kedalam gelas kimia 50 ml.
            -    Dicampurkan 3 sendok   pasir kedalam gelas kimia menggunakan
                 Spatula.
            -    Diaduk menggunakan batang pengaduk.
            -    Diamati.

3.2.2    Filtrasi
            -    Dimasukkan 50 ml aquades kedalam gelas kimia 50 ml.
            -    Digerus 1 batang kapur tulis dengan menggunakan mortar dan alu.
            -    Dicampurkan bubuk kapur tulis sebanyak 3 sendok kedalam gelas
                  kimia dengan menggunakan spatula.
            -    Diaduk menggunakn batang pengaduk.
            -    Disaring menggunakan kertas saring dan corong kaca kedalam labu       
                 erlenmeyer 100 ml.
-        Diamati.

3.2.3    Rekristalisasi
            -    Dimasukkan aquades 10 ml kedalam gelas kimia 50 ml.
            -    Dicampurkan CuSO4 sebanyak 1 sendok menggunakan spatula.
            -    Diaduk menggunakan batang pengaduk.
            -    Dipanaskan menggunakan hotplate.
            -    Diamati.


3.2.4    Sublimasi
            -    Digerus naftalena menggunakan mortar dan alu.
            -    Dimasukkan bubuk naftalena sebanyak 1 sendok.
            -    Dicampurkan garam sebanyak 6 sendok.
            -    Diaduk menggunakan batang pengaduk.
            -    Ditutup cawan  penguap dengan kertas saring yang telah dilubangi
                  kecil-kecil, ditutup lagi dengan corong kaca dengan posisi terbalik
                  dengan ujung lehernya disumbat dengan tisu.
            -    Dipanaskan diatas hotplate.
            -    Diamati.

3.2.5    Ekstraksi
            -    Dimasukkan aquades secukupnya kedalam corong pisah.
            -    Dicampur minyak goreng dengan perbandingan 1:1.
            -    Dikocok searah.
            -    Dipasang di statif dan klem.
            -    Diamati hingga minyak goreng dan aquades terpisah.














BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Tabel Pengamatan
No
Perlakuan
Pengamatan
1.
Dekantasi


Dimasukkan 50 ml aquades kedalam gelas kimia 50 ml

Dicampurkan 3 sendok pasir ke dalam gelas kimia menggunakan spatula
Larutan berubah warna menjadi keruh
Diaduk menggunakan batang pengaduk
Larutan menjadi semakin keruh
Didiamkan hinga pasirnya mengendap

Diamati
Pasir mengendap
2.
Filtrasi


Dimasukkan 50 ml aquades ke dalam gelas kimia 50 ml

Digerus 1 batang kapur tulis dengan menggunakan mortar dan alu
Menjadi bubuk kapur tulis
Dicampurkan bubuk kapur tulis sebanyak 3 sendok kedalam gelas kimia dengan menggunakan spatula
Larutan menjadi keruh
Diaduk menggunakan batang pengaduk
Larutan semakin keruh

Disaring menggunakan kertas saring dan corong kaca ke dalam labu erlenmeyer 100 ml

Diamati
Aquades turun ke dalam labu erlenmeyer dan bubuk kapur tulis tersaring di kertas saring
3.
Rekristalisasi


Dimasukkan aquades 10 ml ke dalam gelas kimia 50 ml

Dicampurkan CuSO4 sebanyak 1 sendok menggunakan spatula
Larutan menjadi berwarna biru
Diaduk menggunakan batang pengaduk
Larutan menjadi semakin biru
Dipanaskan diatas hotplate

Diamati
Mengkristal menjadi bubuk CuSO4
4.
Sublimasi


Digerus kapur barus menggunakan mortar dan alu
Menjadi bubuk
Dimasukkan bubuk naftalena sebanyak 1 sendok

Dicampur garam sebanyak 6 sendok

Diaduk menggunakan batang pengaduk
Garam dan naftalena bercampur
Ditutup cawan penguap dengan kertas saring yang telah dilubangi kecil-kecil ditutup lagi dengan corong kaca dengan posisi terbalik dan ujung lehernya disumbat dengan tisu


Dipanaskan diatas hotplate

Diamati
Naftalena mengkristal di dinding corong kaca
5.
Ekstrasi


Dimasukkan aquades secukupnya kedalam corong pisah

Dicampur minyak goreng dengan perbandingan 1:1
Campuran terpisah
Dikocok searah
Campuran menyatu sementara
Dipasang di statif dan klem

Diamati hingga minyak goreng dan aquades terpisah
Campuran terpisah kembali miyak goreng diatas dan aquades dibawah

4.2       Pembahasan
Beberapa prinsip yang digunakan dalam proses pemisahan dan pemurnian campuran:
a.       Perbedaan ukuran partikel
Jika ukuran partikel suatu zat yang diinginkan berbeda, dengan zat yang tidak diinginkan (zat pencampur) dapat dipisahkan dengan metode penyaringan (filtrasi). Untuk keperluan ini harus menggunakan penyaring dengan ukuran yang sesuai. Partikel zat hasil akan melewati penyaring dan zat pencampurnya akan terhalang yang disebut residu.
b.      Perbedaan titik didih
Untuk memisahkan campuran zat yang memiliki titik didih dapat melakukan metode sublimasi. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan lebih dulu menguap. Jika yang diinginkan adalah zat yang memiliki titik didih rendah, maka selanjutnya mengembunkan uap dari zat tersebut dan mengalirkannya ke wadah tertentu. Jika yang diinginkan adalah zat yang memiliki tiitk didih yang tinggi maka cukup memanaskan campuran tersebut aja, sampai suhu mencapai titik didih zat yang kita cari.


c.       Perbedaan massa jenis
Suhu pengendapan zat akan memiliki kecepatan mengendapkan yang berbeda dalam larutan yang berbeda. Zat yang memiliki masa jenis lebih besar dari pada pelarutnya akan mudah mengendap. Bila dalam suatu campuran mengandung satu atau beberapa zat dengan kecepatan pengendaan yang berbeda, maka dapat dilakukan pemisahan campuran tersebut dengan metode sedimentasi. Tapi jika dalam campuran tersebut terdapat lebih dari satu zat yang diinginkan, maka digunakan metode filtrasi.
d.      Adsorbsi
Adsorbsi merupakan penarikan suatu zat oleh zat lain sehingga menempel pada permukaan dari bahan pengadsorbsi. Penggunaan metode ini diterapkan pada pemurnian air dan kotoran renik atau organisme.
e.       Absorbsi
Absorbsi merupakan suatu fenomena fisik atau kimia atau suatu proses penyerapan yang terjadi pada seluruh bagian permukaan.
f.       Perbedaan kelarutan
Suatu zat selalu meiliki spesifikasi kelarutan yang berbeda, artinya suatu zat mungkin larut dalam pelarut A tetapi tidak larut dalam pelarut B, atau sebaliknya. Secara umum pelarut dibagi menjadi dua, yaitu pelarut polar dan pelarut non polar. Pelarut polar mudah terlarut pada pelarut polar dan senyawa polar mudah terlarut pada pelarut non polar. Dengan hal ini menggunakan perbedaan kelarutan didapatkan pemisahan campuran dengan pelarut tertentu.
g.      Difusi
Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah. Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut gradien konsentrasi. Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar secara luas secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada perbedaan konsentrasi. Contohnya pemberian gula pada cairan teh tawar.

Pada percobaan pertama campuran air dan aquades dapat dipisahkan dengan cara dekantasi. Pada proses dekantasi campuran pasir dan aquades didiamkan didalam gelas kimia 50 ml. Hasil dari proses ini adalah pasir mengendap dibagian bawah gelas kimia dan air berada dibagian atas dari endapan pasir. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh gaya gravitasi, selain itu mengendapnya pasir juga dipengaruhi oleh perbedaan massa jenis antara pasir dan aquades. Massa jenis pasir lebih besar dibandingkan massa jenis aquades, massa jenis pasir adalah 1,9 gr/cm3 sedangkan massa jenis aquades adalah 1 gr/cm3. Dalam percobaan ini campuran bersifat heterogen sehingga dapat dipisahkan secara mekanik.

Pada percobaan kedua, pemisahan kapur tulis dengan aquades dilakukan dengan cara filtrasi. Hasil dari percobaan adalah larutan berubah menjadi keruh dan ketika disaring kapur tulis tertahan pada kertas saring karena ukuran partikel lebih besar daripada pori-pori kertas. Kapur yang tertahan pada kertas saring disebut residu sedangkan aquades disebut filtrat.

Pada percoban ketiga rekristalisasi, campuran antara CuSO4 dengan aquades. Pada proses rekristalisasi campuran CuSO4 dan aquades dipanaskan diatas hotplate. Hasil dari proses ini adalah aquades lebih cepat menguap, habis dan yang tersisa adalah kristal CuSO4 didasar gelas kimia. Hal ini terjadi karena titik didih aquades lebih rendah dari CuSO4. Titk didih aquades adalah 100oC sedangkan titik didh CuSO4 adalah 150oC. Percobaan ini dipengaruhi oleh titik didih dan titik uap. Dimana jika titik uapnya tinggi maka titik didihnya rendah dan sebaliknya jika titik didihnya rendah maka titik didihnya tinggi.

Pada percobaan keempat sublimasi, pencampuran antara naftalena dan garam. Pada proses sublimasi campuran naftalena dan garam pada cawan penguap ditutup dengan kertas saring yang telah dilubangi kecil-kecil menggunakan jarum. Lalu ditutup lagi menggunakan corong kaca dengan posisi terbalik yang ujungnya disumbat dengan tisu, kemudian dipanaskan. Hasil dari proses ini adalah terdapat kristal-kristal naftalena yang menempel pada dinding corong kaca. Percobaan ini dipengaruhi oleh titik didih. Hal itu terjadi karena titik didih naftalena lebih rendah daripada titik didih garam. Titik didih naftalena adalah 218oC sedangkan titik didih garam adalah 1465oC. Sehingga naftalena yang menempel pada dinding corong kaca.

Pada percobaan kelima ekstraksi, pemisahan air dan minyak goreng. Pada proses ekstraksi air dan minyak goreng dimasukkan kedalam corong pisah kemudian dikocok lalu didiamkan. Hasil dari proses ini adalah air dan minyak goreng memisah. Minyak goreng berada diatas air. Hal ini disebabkan oleh massa jenis minyak goreng lebih kecil daripada massa jenis air. Massa jenis minyak goreng adalah 0,92 gr/cm3 sedangkan massa jenis air adalah 1 gr/cm3. Selain itu percobaaan ini juga menggunakan prinsip kepolaran. Minyak dan air tidak dapat bercampur karena air bersifat polar artinya senyawa yang memiliki keelektronegatifan yang jauh berbeda antara atom penyusunnya. Sedangkan minyak bersifat non polar, minyak memiliki perbedaan keelektronegatifan yang relatif kecil atau bahkan nol. Ketika keran pada corong pisah dibuka dan tutup corong pisah dalam keadaan ditutup, cairan keluar dengan sangat lambat. Sedangkan ketika tutup corong pisah dibuka, cairan mengalir dengan cepat. Hal ini disebabkan karena pengaruh gravitasi.

Ada beberapa fungsi perlakuan yang dilakukan, yang pertama adalah diaduk. Hal ini dilakukan agar larutan menjadi tercampur. Yang kedua penyaringan, fungsi penyaringan adalah agar residu berpisah dengan filtratnya. Yang ketiga penyumbatan, fungsi penyumbatan pada corong kaca dilakukan agar uap kristal tidak keluar. Yang keempat pemanasan, fungsi pemanasan untuk menguapkan zat terlarut sehingga terpisah dengan pelarutnya. Yang kelima pengocokan, fungsi pengocokan adalah untuk mencampurkan minyak dan air. Yang keenam didiamkan, fungsi didiamkan adalah untuk melihat proses prmisahannya dan agar dapat dengan mudah diamati. Yang ketujuh dilubangi kecil-kecil, fungsi dilubangi kecil-kecil pada sublimasi adalah agar zat yang menguap dapat melewati kertas dan tidak tertahan.

Sifat-sifat aquades adalah tidak berwarna, berupa cairan, tidak berbau, mempunyai rumus molekul H2O, tidak berasa pada kondisi standar, bersifat polar dan memiliki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia.

Sifat-sifat naftalena adalah mempunyai rumus kimia C10H8, berupa padatan, berwarna putih kristal, memiliki bau yang kuat, bersifat volatil mudah menguap dan mudah terbakar, dan tidak dapat larut dalam air.

Sifat-sifat CuSO4 adalah berwarna biru, dapat bereaksi dengan logam Zn, bersifat higroskopis, dan dapat lart dalam air.

Faktor kesalahan pada percobaan ini yaitu, pada percobaan rekristalisasi terjadi kelarutan saat larutan aquades dicampur dengan CuSO4 saat dipanaskan larutan yang harusnya berwarna biru berubah menjadi hijau hal ini terjadi karena alat-a;at yang digunakan kotor atau belum dicuci. Terjadi kesalahan pada percobaan ekstraksi, pada saat keran dibuka, minyak ikut keluar bersamaan dengan air hal ini terjadi karena ketidaktepatan praktikan saat menutup keran.









BAB 5
PENUTUP

5.1       Kesimpulan
-   Pemisahan dan pemurnian dilakukan berdasarkan pada zat-zat tercemar tersebut. Misalnya campuran air dan pasir dipisahkan mengunakan pengendapan atau dekantasi. Campuran air dan garam dipisahkan dengan menggunakan metode kristalisasi. Campuran air dan kapur dipisahkan menggunakan metode penyaringan  atau filtrasi dan sebagainya.
-   Pemisahan dan pemurnian bertujuan untuk mendapatkan zat murni dari suatu dari suatu zat yang telah tercampur atau tercemar. Zat atau materi dapat dipisah dari campurannya karena karena campuran tersebut memiliki perbedaan sifat. Itulah yang mendasari pemisahan dan pemurnian campuran. Berikut adalah beberapa prinsip yang digunakan dalam proses pemisahan dan pemurnian campuran.
            1.         Perbedaan ukuran partikel
            2.         Perbedaan titik didih
            3.         Perbedaan masa jenis
            4.         perbedaan kelarutan
            5.         Absorbsi
            6.         Adsorbsi, dan
            7.         Difusi.
-   Ada dua macam campuran yaitu homogen dan heterogen. Campuran homogen adalah penggabungan dua zat atau lebih yang semua partikelnya menyebar merata sehingga membentuk fase. Contohnya campuran air dengan gula. Campuran heterogen adalah penggabungan yang tidak merata antara dua zat tunggal atau lebih sehingga perbandingan komponen yang satu dengan yang lainnya tidak sama diberbagai bejana. Contohnya seperti campuran air dan minyak.

5.2       Saran
Sebaiknya pada saat praktiku menggunakan teknik atau metode yang lain selain yang dicobakan, seperti kristalisasi, destilasi, absorbsi dan metode-metode yang lain. Agar kita dapat mengetahui banyak metode dalam proses pemurnian dan pemisahan.


























                                                DAFTAR PUSTAKA

Keenan, Charles W, dkk. 1992. "Kimia Untuk Universitas Jilid 2". Jakarta :    
            Erlangga
Kitty. 1996. "Kimia Fisika Jilid 2 Edisi Keempat". Jakarta : Erlangga
Petrucci. 1996. "Kimia Dasar Jilid 1". Jakarta : Erlangga
Petrucci. 1987. "Kimia Dasar". Bogor : Erlangga
Sudjadi. 1998. "Metode Pemisahan". Yogyakarta : Fakultas Farmasi UGM
Suyitno. 1989. "Kimia Fisika Untuk Universitas". Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Svehla, G. 1978. "Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan   
            Semimakro Jilid 1 Edisi Kelima". Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka
Syukri, S. 1999. "Kimia Dasar 1". Bandung : ITB
Syukri, S. 1991. "Kimia Dasar 1". Bandung : ITB
Yazid, Estien. 2005. "Kimia Fisik Untuk Parametis". Yogyakarta : Andi

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar